TOLLO' PAMARRASAN, SAJIAN ISTIMEWA KHAS TORAJA

Selain Budaya & Pariwisata Toraja ada pulah SAJIAN ISTIMEWA KHAS TORAJA "TOLLO PAMARRASAN" Halal Lho>>>

Masakan Pamarrasan merupakan masakan tradisional khas masyarakat Toraja, cara masyarakat lokal memasak makanan dengan bumbu hitam spesial Toraja yang diolah dari buah Pangi Pohon pangi dipercaya memiliki banyak manfaat bagi tubuh baik dari daunnya, buah maupun bijinya.Selain daging merah sebagai bahan dasarnya, bumbu pamarrasan dapat dimasak pula dengan ikan mas, atau Lendong (belut) dan lebih special yaitu lombok super pedas LADA KATOKKON,
rawon khas ala Toraja ini memiliki cita rasa dan wangi yang khas dari buah pangi dengan kuah gurih pedas menyegarkan dan tidak kental. Ummm pengen coba yahhh " Yuk Ke Toraja" https://www.facebook.com/AyokeToraja01/

Wilaya Toraja Masa Lampau Luas, Hingga Meliputi Lintas Provinsi Sulselbar

Foto-foto Toraja pada Masa Lampau, ketika Belanda berada di Toraja. Tondok Lepongan Bulan Tana Matarik Allo, yang meliputi Endrekang, Tana Toraja, Toraja Utara, Mamasa, Mamuju (Mamuju,
Mamuju Utara, Mamuju Tengah, Luwu (Palopo, Luwu, Luwu Utara, Luwu Timur), Poso, dan Morowali. Next ... (Note: The photos will continue to be added regularly)

(Memory of The Netherlands: Foto-foto ini merupakan sebuah perjalanan hidup Suku Toraja di Sulawesi antara Tahun 1860 - 1990)

Referensi dan Sumber Foto:
Museum Volkenkunde, Tropenmuseum, Europeana Culture


Catatan:
TONDOK LEPONGAN BULAN TANA MATARIK ALLO (Tondok: Negeri, Lepongan: bulatan; kesatuan, Bulan: Bulan, Tana: Negeri, Matarik: Berbentuk, Allo: Matahari), Artinya Negeri yang betuk pemerintahan dan Kemasyarakatannya merupakan Kesatuan yang utuh/bulat bagaikan bentuknya seperti Bulan dan Matahari.







Tondok Lepongan Bulan, memiliki makna: Satu Kesatuan Utuh Tanah Wilayat Dari Kaum Yang Memiliki Adat Sama Seperti Bulan Yang Bulat.
Tana Matarik Allo, memiliki makna: Baik Pemimpinya, maupun Masyarakatnya Takluk dan Takut akan TUHAN.
Sehingga dari kedua makna di atas memiliki Simbol: Pa' Barreallo

Nama Lepongan Bulan atau Matarik Allo tersebut bersumber dari terbentuknya negeri itu dalam satu kebulatan/kesatuan Tata Masyarakat yang terbentuk berdasarkan: (1) Suatu negeri yang terbentuk atas adanya Persekutuan dan Kebulatan berdasarkan pada suatu agama / Keyakinan yang dinamakan Aluk Todolo, yang mempergunakan suatu macam aturan yang bersumber dari suatu sumber yaitu dari Banua Puan Marinding yang dikenal dengan Aluk Pitung Sa’bu Pitu Ratu Pitung Pulo Pitu atau Aluk Sanda Pitunna (Aturan/Agama 7777); (2) Suatu negeri yang dibentuk oleh beberapa daerah adat tetapi menggunakan satu dasar adat dan budaya yang bersumber dari suatu sumber yang berpancar atau bersinar seperti sinarnya Bulan atau Matahari; (3) Suatu kesatuan Negeri yang terletak pada bagian utara di pegunungan Sulawesi Selatan yang dibentuk oleh Satu Suku yaitu Suku Toraja sekarang ini, yang terdiri dari berbagai Sub-Suku Toraja di Sulawesi (Selatan, Barat dan Tengah).

Yuk Mudik, Warga Toraja Bisa Langsung ke Balikpapan

Maskapai Gatari Air akan terbang perdana pada dua rute baru, yakni Makasar-Toraja dan Toraja-Balikpapan, Kamis 30 Juni. Penerbangan perdana menggunakan pesawat ATR dengan daya angkut 48 seat.  
Sebelumnya Gatari Air melakukan tes flight di rute tersebut. Bandara Pongtiku di Rantetayo juga sudah dinyatakan siap untuk didarati. Penerbangan di dua rute itu akan dilakukan setiap hari. Selain penumpang, penerbangan itu juga melayani jasa pengiriman dan kargo.   Pengelola bandara sudah menyiapkan counter penjualan tiket di Balikpapan, Makasar, dan Toraja.   “Kita terus lakukan persiapan. Jika Tuhan berkenan, sesuai rencana, penerbangan sudah dimulai besok,” ungkap Kepala Bandara Pongtiku, Aleks Rudi, Rabu 29 Juni.
MEDIAnya RAKYAT SULAWESI Sumber : http://fajaronline.com/2016/06/29/besok-warga-toraja-langsung-balikpapan/.

MAHAR PERNIKAHAN BUGIS 100 JUTA HINGGA MILYARAN

Cuaca selama pekan terakhir ini dapat dibilang belum stabil, tak menentu. Terutama di  kawasan Makassar dan Sulawesi Selatan masih selalu nampak mendung, kadang gerimis kecil, kemudian panas menyengat di siang hari, disusul mendung lagi dan hujan deras di sore/petang atau malam. Berkait fluktuasi gejala alam ini, ada sesuatu hal yang menarik. Tak hanya undangan hajat nikahan/kawinan yang banyak dijumpai sekaligus kita hadiri. Sejak bulan September hingga pertengahan November ini – menurut perhitungan secara kultural – memang saat yang cocok untuk melangsungkan hajatan, terutama kawinan atau di Sulsel sering disebut - acara Botting. Saking banyaknya acara nikahan atau botting ini, salah seorang kawan pengusaha sempat berkelakar begini: “Bro kalau mau, silakan ambil itu undangan untuk menghadiri acara nikahan, banyak koq dan silakan pilih…” he..heeh

Nah bicara mengenai pernikahan dan tradisi pernikahan, setiap daerah tidak bisa lepas dari tradisi dan kebudayaanya, ini karena tradisi tersebut sudah melekat pada masyarakatnya. Bahkan tradisi seperti ini menjadi kebanggaan dan kekayaan yang harus tetap dijaga agar tidak hilang karena perkembangan zaman saat ini.

Ada keragaman dalam tradisi pernikahan di seluruh Nusantara, contohnya saja dalam hal seberapa besar uang atau mahar yang harus Anda keluarkan untuk mempersunting seorang wanita. Terdapat daerah yang tidak mematok jumlahnya, tapi ada juga yang menetapkan jumlah yang sangat mahal. Bahkan lebih dari Rp. 100 juta rupiah, penasaran daerah mana saja? Berikut ini ulasannya.


1. Bugis

Jika ingin menikahi gadis Bugis, maka Anda harus siap-siap tercengang dengan jumlah mahar yang harus diberikan kepada calon istri. Masyarakat Bugis mematok mahar sesuai dengan tingkatan derajatnya hingga tingkat pendidikannya. Semakin tinggi pendidikannya, maka semakin mahal pula maharnya.
Misalnya saja untuk seorang gadis yang telah menyelasaikan pendidikan S1, patokan maharnya seharga lebih dari Rp 50.000.000. Lalu bagaimana dengan lulusan S2? Tentu saja harganya akan lebih mahal, bisa mencapai Rp. 75.000.000 - Rp.100.000.000,-. Jumlah yang cukup fantatstis bukan?


Kisah Kakao Asal Sulbar di Kancah Penikmat Coklat Dunia

Sulawesi Barat (Sulbar) adalah provinsi termuda Indonesia, yang siap menjadi rising star dalam hal kontribusi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Saat ini, Sulbar berada di peringkat kedua tertinggi, dalam pencapaian pertumbuhan ekonomi setelah Bangka Belitung. Berdasarkan catatan Bank Indonesia, pertumbuhan ekonomi Sulbar yakni 8,4 persen. Gubernur Bank Indonesia Agus D.W. Martowardojo bahkan yakin pertumbuhan ekonomi di Sulbar akan berada di kisaran 8,5 persen atau bahkan lebih.


 Seperti diketahui, kualitas kakao Sulbar hingga saat ini adalah yang terbaik se-Asia Tenggara. Bahkan dengan kondisi alam yang sedang dirundung kemarau pun, kualitas kakao di Sulbar tetap terjaga. Hasil kakao di Sulbar inilah yang menjadi penyumbang terbesar pertumbuhan ekonomi provinsi ke-33 tersebut, disusul kopi, cengkeh, kelapa sawit, dan batu bara. Namun berdasarkan catatan Badan Pengelolaan Lingkungan Daerah (BPLHD) Sulbar, ada tujuh desa yang saat ini berada di tahap waspada kekeringan. Melalui dedikasi untuk negeri, beberapa instansi dan lembaga negara telah mulai turut bergerak mendorong manajemen perairan di tujuh desa tersebut. Salah satunya dengan menggalakkan gerakan pipanisasi bagi ketujuh desa tersebut. Pipanisasi Dengan pipanisasi, diharapkan masyarakat di tujuh desa akan terbantu dalam hal kebutuhan pokok. Pasalnya, saat ini masyarakat di desa-desa tersebut harus berjalan sejauh 1-2 kilometer ke sumber mata air yang dekat dengan desa mereka. Adapun penggunaan selang langsung dari sumber mata air, manfaatnya hanya sebatas penduduk yang terdekat dengan mata air. Hal itu tentu mengganggu produktifitas masyarakat yang pada umumnya adalah petani kakao dan kopi.  
Dengan adanya pipanisasi, maka kendala tersebut akan teratasi dan aktifitas masyarakat desa semakin meningkat, seiring dengan meningkatnya kualitas kakao. Salah satu desa yang telah menghitung manfaat pipanisasi adalah Desa Pati'di yang terletak di Kota Mamuju. Menurut Kepala Desa Pati'di M. Ridwan, pipanisasi akan mengatasi kendala warganya, yang belakangan kian mengeluhkan terhambatnya aktifitas bertani mereka. "Para warga mengeluh, lantaran susah air, mereka terpaksa memakai waktu bertani mereka untuk mengambil air di sumber mata air," ungkap Ridwan. Alhasil, produktifitas kakao di desanya ikut terkendala. "Padahal kualitas kakao di Desa Pati'di ini terbaik se-Asia Tenggara. Saat panen, kakao di sini langsung dibeli oleh produsen coklat dan es krim terkemuka di dunia," kata Ridwan. Dia khawatir bila problem ini terus berlanjut, kuantitas dan kualitas kakao yang dihasilkan menurun. Namun masyarakat Sulbar yakin, walau bagaimanapun, kondisi provinsinya akan semakin baik. Optimisme masyarakat itu datang bukan lantaran seiring adanya bantuan dari instansi dan lembaga negara yang ingin ikut berkontribusi pada peningkatan pertumbuhan ekonomi Indonesia. "Tapi karena masyarakat Sulbar kreatif.
Ini intinya," ujar Ridwan. Menurut Gubernur Sulbar Anwar Adnan Saleh, dengan sentuhan dukungan yang tepat, selain akan semakin mendorong peningkatan sektor perkebunan dan pertainan, juga akan mempercepat peningkatan pertumbuhan ekonomi di provinsi yang dipimpinnya itu. "Manfaat bantuan ini luas. Karena mampu meningkatkan kembali semangat warga untuk bertani, yang sempat lesu karena masalah pengairan tadi. Pada akhirnya, itu akan berujung pada peningkatan perekonomian di Sulbar," ungkap Anwar Adnan. Terlebih Ridwan yang mengatakan, penduduk Desa Pati'di telah menyiapkan sesuatu yang lebih lagi. "Pipanisasi, targetnya adalah kemudahan air untuk warga Desa Pati'di yang umumnya berprofesi sebagai petani kakao.
Diharapkan masalah warga teratasi sehingga semangat kerja dan produktifitas pun semakin meningkat. Tapi kami punya target yang lebih dari sekedar," kata Ridwan. Kualitas dan Kuantitas Apakah itu? Ridwan memaparkan, bantuan-bantuan yang berupa dukungan pipanisasi dan alat pendukung manajemen perairan untuk masyarakat Desa Pati'di memang secara tak langsung akan meningkatkan produktifitas hasil pertanian melalui pemberdayaan masyarakat. Mekanismenya yakni dukungan fasilitas pengairan tersebut akan menuntaskan masalah warga, kemudian kegiatan pertanian pun kembali normal dan bahkan diharapkan semakin meningkat. "Namun kami bisa membuat bantuan itu bermanfaat langsung bagi kegiatan pertanian, yakni ketersediaan air secara langsung ke tanaman pertanian kami, kakao, kopi, sawit dan lainnya. Karena selama ini, tanpa bantuan pun kami bisa menghasilkan produk pertanian yang baik, meski saat ini terkendala kemarau," ungkap Ridwan. Terlebih dengan adanya bantuan tersebut, M. Ridwan dan para tokoh desa lainnya yakin produksi hasil alam daerah mereka semakin meningkat. Saat ini pihaknya telah membuat perhitungan khusus dalam hal pengairan, yang dibagi dalam prioritas : untuk keperluan hidup warga desa dan untuk kawasan pertanian.
Selama ini, kesemuanya dilakukan secara acak, yakni air dari satu sumber mata air digunakan bersamaan. "Apalagi belakangan ini. Kemarau, sumur kami kering, membuat kami berjalan ke mata air untuk kebutuhan hidup lalu untuk pertanian. Akhirnya menyita kegiatan pertanian. Itu dari sisi tak langsung," ungkap Kepala Dusun Tappalang Amiruddin. Dari sisi pengaruh langsung ke hasil pertanian, lanjut Amiruddin, adalah kualitas kakao yang menjadi buruk. Dari pantauan langsung di lokasi, tampak di bagian atas pohon kakao, dedaunan kering dan buah-buah kakao yang busuk. Hal itu lantaran air tidak mencapai ke atas pohon. "Itu karena kemarau, air tak mampu berdistribusi hingga ke pucuk pohon. Namun kami sudah menghitung rencana penggunaan bantuan fasilitas-fasilitas ini, dimana air akan langsung mengairi pohon sehingga distribusi air untuk pohon kakao sempurna dan mampu menekan potensi kebusukan buah. Panen makin banyak," ungkap Amiruddin. Dengan begitu, kuantitas dan kualitas kakao yang dihasilkan semakin tinggi, kontribusi terhadap pendapatan serta pertumbuhan ekonomi daerah pun ikut meningkat.